Setiap perusahaan menghasilkan ribuan dokumen setiap tahunnya yang tersimpan dalam ordner dan filing cabinet. Namun, tidak semua dokumen perlu anda simpan selamanya. Artikel ini membahas masa retensi dokumen yang tepat sesuai regulasi dan best practice perusahaan di Indonesia.
Apa Itu Masa Retensi Dokumen?
Masa retensi dokumen adalah periode waktu minimum perusahaan wajib menyimpan dokumen tertentu sebelum boleh anda musnahkan. Regulasi ini melindungi perusahaan dari risiko hukum dan audit. Selain itu, sistem retensi yang baik menghemat ruang penyimpanan dan biaya operasional.
Setiap jenis dokumen memiliki masa retensi berbeda berdasarkan fungsi dan kepentingan hukumnya. Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami klasifikasi dokumen untuk menerapkan sistem arsip yang efisien.
Klasifikasi Dokumen Berdasarkan Masa Retensi
Dokumen Permanen (Simpan Selamanya)
Dokumen permanen wajib anda simpan selama perusahaan masih beroperasi. Kategori ini mencakup akta pendirian, NPWP, sertifikat tanah dan bangunan, serta kontrak penting jangka panjang. Kemudian, dokumen strategis seperti notulen rapat pemegang saham dan kebijakan perusahaan juga masuk kategori ini.
Simpan dokumen permanen dalam ordner berkualitas tinggi untuk perlindungan jangka panjang. Dengan demikian, dokumen tetap terjaga kondisinya meskipun anda simpan puluhan tahun.
Dokumen Jangka Panjang (10 Tahun atau Lebih)
Dokumen keuangan seperti laporan tahunan, laporan audit, dan SPT Tahunan wajib anda simpan minimal 10 tahun sesuai regulasi perpajakan. Selanjutnya, kontrak kerja karyawan permanen dan dokumen kepegawaian penting juga masuk kategori ini. Oleh karena itu, gunakan sistem labeling yang jelas pada ordner arsip untuk memudahkan pencarian.
Dokumen Jangka Menengah (3-7 Tahun)
Invoice, kwitansi, dan bukti pembayaran umumnya disimpan 5-7 tahun untuk keperluan audit internal. Kemudian, dokumen operasional seperti purchase order dan delivery order cukup disimpan 3-5 tahun. Dengan begitu, perusahaan tetap mematuhi regulasi tanpa pemborosan ruang penyimpanan.
Dokumen Jangka Pendek (1-2 Tahun)
Dokumen administratif rutin seperti surat menyurat internal, memo, dan notulen meeting biasa cukup disimpan 1-2 tahun. Selain itu, dokumen marketing dan proposal yang tidak disetujui dapat dimusnahkan setelah 1 tahun. Oleh karena itu, lakukan review berkala untuk disposal dokumen kategori ini.
Tabel Retensi Dokumen Umum
| Jenis Dokumen | Masa Retensi | Dasar Hukum |
|---|---|---|
| Akta Pendirian | Permanen | – |
| Laporan Keuangan Tahunan | 10 tahun | UU Perpajakan |
| SPT Tahunan | 10 tahun | UU KUP |
| Kontrak Kerja Karyawan | 10 tahun | UU Ketenagakerjaan |
| Invoice & Bukti Bayar | 5-7 tahun | Best Practice |
| Dokumen Operasional | 3-5 tahun | Internal Policy |
| Surat Menyurat Internal | 1-2 tahun | Internal Policy |
| Dokumen Marketing | 1 tahun | Internal Policy |
Regulasi Retensi Dokumen di Indonesia
Undang-Undang Perpajakan
UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) mewajibkan wajib pajak menyimpan dokumen perpajakan minimal 10 tahun. Dokumen ini mencakup SPT, bukti pemotongan pajak, dan pembukuan perusahaan. Kemudian, masa retensi terhitung sejak tahun pajak berakhir, bukan tanggal dokumen anda buat.
Undang-Undang Ketenagakerjaan
Dokumen kepegawaian seperti kontrak kerja, slip gaji, dan data absensi wajib anda simpan minimal 10 tahun setelah hubungan kerja berakhir. Regulasi ini melindungi perusahaan dari klaim hukum karyawan. Oleh karena itu, departemen HRD perlu menerapkan sistem filing yang terorganisir.
Peraturan Kearsipan Nasional (ANRI)
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menetapkan standar pengelolaan arsip untuk instansi pemerintah dan perusahaan BUMN. Meskipun tidak wajib untuk perusahaan swasta, standar ANRI menjadi best practice yang direkomendasikan. Dengan demikian, perusahaan memiliki referensi jelas untuk menyusun kebijakan retensi internal.
Cara Menerapkan Sistem Retensi Dokumen
Buat Jadwal Retensi Dokumen (JRD)
Perusahaan perlu menyusun Jadwal Retensi Dokumen yang mencantumkan semua jenis dokumen dan masa simpannya. Dokumen ini menjadi pedoman bagi seluruh karyawan dalam mengelola arsip. Selanjutnya, review dan update JRD setiap 2-3 tahun sesuai perubahan regulasi.
Libatkan departemen legal, finance, dan HRD dalam menyusun JRD untuk memastikan kelengkapan. Kemudian, sosialisasikan kebijakan ini ke seluruh karyawan melalui training atau handbook. Oleh karena itu, implementasi sistem retensi berjalan konsisten di semua divisi.
Labeling Ordner dengan Tanggal Disposal
Setiap ordner arsip harus anda lengkapi label yang mencantumkan tahun dokumen, kategori, dan tanggal disposal. Misalnya: “Invoice 2023 – Dispose: Jan 2030”. Dengan begitu, tim administrasi dapat dengan mudah mengidentifikasi ordner yang sudah boleh anda musnahkan.
Gunakan sistem color coding untuk membedakan kategori retensi. Contohnya: ordner merah untuk dokumen permanen, biru untuk 10 tahun, hijau untuk 5 tahun, dan kuning untuk 1-2 tahun. Oleh karena itu, visual management memudahkan pengelolaan arsip dalam jumlah besar.
Review Berkala Setiap Tahun
Lakukan audit arsip minimal sekali setahun untuk mengidentifikasi dokumen yang sudah melewati masa retensi. Buat checklist dokumen yang akan anda musnahkan dan minta approval dari departemen terkait. Selanjutnya, dokumentasikan proses pemusnahan dengan berita acara disposal.
Prosedur Pemusnahan Dokumen yang Aman
Identifikasi Dokumen untuk Disposal
Review semua ordner berdasarkan label tanggal disposal. Pastikan dokumen sudah melewati masa retensi minimum sesuai JRD. Kemudian, pisahkan dokumen yang masih anda perlukan dari yang akan anda musnahkan. Oleh karena itu, hindari kesalahan disposal yang dapat menimbulkan masalah hukum.
Metode Pemusnahan yang Aman
Dokumen konfidensial harus anda musnahkan dengan shredder (penghancur kertas) untuk mencegah kebocoran informasi. Untuk volume besar, gunakan jasa pemusnahan dokumen profesional yang tersertifikasi. Selain itu, buat berita acara pemusnahan yang telah tertandatangani oleh kepala divisi dan divisi legal.
Dokumen non-konfidensial dapat anda daur ulang melalui program waste management perusahaan. Dengan demikian, perusahaan berkontribusi pada sustainability sambil mengelola arsip dengan efisien.
Tips Mengoptimalkan Ruang Penyimpanan
Setelah disposal rutin, Anda akan memiliki lebih banyak ruang untuk arsip aktif. Gunakan ordner berkualitas yang awet untuk dokumen dengan masa retensi panjang. Kemudian, investasikan pada filing cabinet yang efisien untuk mengoptimalkan ruang vertikal kantor.
Pertimbangkan digitalisasi untuk mengurangi ketergantungan pada arsip fisik. Namun, tetap simpan dokumen original dalam ordner untuk keperluan legal dan audit. Oleh karena itu, kombinasi sistem digital dan fisik memberikan fleksibilitas maksimal.
Kesimpulan
Menerapkan sistem retensi dokumen yang tepat melindungi perusahaan dari risiko hukum sekaligus mengoptimalkan ruang penyimpanan. Setiap jenis dokumen memiliki masa retensi berbeda yang harus anda patuhi sesuai regulasi. Kemudian, disposal berkala mencegah penumpukan arsip yang tidak anda perlukan.
Mulai susun Jadwal Retensi Dokumen perusahaan Anda hari ini. Gunakan ordner berkualitas dari Bindex dan Bambi untuk perlindungan arsip jangka panjang. Dapatkan konsultasi gratis sistem filing yang efisien hanya di Bindexmall.com!
